Pulang disambut dengan lampu mati dan harga bensin selangit

24 07 2008

Sehabis selesai sidang sarjana kemaren, saya menyempatkan diri untuk pulang sebentar melihat orang tua. Cuma 4 hari, berangkat sabtu pagi dan ke padang lagi rabu malam. Awalnya seperti biasa terjadi pemadaman lampu PLN karena memang kondisi kelistrikan nasional saat ini sedang terganggu. Hari minggunya tepat jam 12 lampu mati. Masyarakat pun memaklumi mungkin memag jadwalya mati selama 3 jam.

Namun tunggu ditunggu ternyata lampu tidak hidup hingga baru hidup rabu jam 11. Kabarnya ada tiang listrik yang rebah di daerah sawmil. Imbasnya selama 3 hari daerah rimbo bujang, VII kota, sebagaian tebo Ulu (teluk Kuali) gelap gulita pada malam hari.

Sebagai masyarakat ada yang membeli genset (memang sudah ada sebelumnya) berinisiatif menyalakannya. Namun masalah laen menunggu, mahalnya harga bensin yang mencapai 12 ribu satu literya. Bahkan katanya dulu sempat mencapai 15 ribu satu liter. Klop sudah.

Tapi ada kabar bagus juga, harga karet sekilo mencapai 11 ribu. O ya, kondisi jalan semakin parah ditambah dengan berseliwerannya  truk-truk kayu PT WKS (Wira Karya Sakti) dari daerah VII koto ke tungkal. Tidak tanggung-tanggung truk-truk ini mengangkut kayu bulat setinggi-tingginya seolah-olah mereka yang mempunyai dan menguasai jalan